Faktor-faktor Penyebab Pendaki Tersesat di Gunung
Faktor-faktor Penyebab Pendaki Tersesat di Gunung
Pada kesempatan ini Seputar - Rimba akan memberikan informasi mengenai faktor-faktor penyebab pendaki tersesat di gunung. Baiklah kita langsung masuk ke pembahasan berikut:
![]() |
| Ilustrasi Pendaki |
1. Mendaki Sendiri (Solo Hiking)
Tak asing bahwa solo hiking merupakan alternatif para jomblo untuk melampiaskan perasaannya. Mereka Nanjak sendirian ke gunung dengan alasan "Nggak ada temen nanjak, jadi nanjak sendiri aja!"
Namun demikian Solo Hiking sangat tidak dianjurkan karena sangat berisiko bagi keselamatan pendaki itu sendiri.
Perlu diketahui bahwa minimal personil dalam pendakian gunung adalah tiga orang. "Kenapa minimal 3?" Karena jika terjadi hal-hal buruk pada seorang pendaki, misalnya ada satu kelompok pendaki beranggotakan 3 orang, tiba-tiba salah seorang pendaki cedera, nah dua orang pendaki lain di tim tersebut bisa bahu membahu untuk membantu rekannya yang cedera.
Kalian juga bisa baca : Tips Mendaki Gunung Sendirian (Solo Hiking)
2. Turun Sendiri Tanpa Rombongan
Biasa dilakukan? Tinggalkan! Kebanyakan kasus pendaki tersesat dan hilang karena mereka turun gunung sendirian. Jadi mereka summit berombongan namun saat turun gunung sendirian, parahnya lagi jika turun sendiri tanpa pamit, hal tersebut sangat berisiko untuk keselamatan pendaki.
Jika memang harus turun terlebih dahulu, ada baiknya meminta ditemani rekan satu kelompok atau mencari "tebengan" pendaki lain untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
3. Ditinggal Rombongan
"Aku cedera! Kalian lanjut aja! Aku nggak apa-apa kok di sini!" Jika anda mengiyakannya, berarti anda sedang membiarkan teman anda dalam bahaya. Anda tidak tau apa yang akan terjadi pada teman yang anda tinggalkan tadi. Tidak menutup kemungkinan jika teman yang anda tinggalkan tadi tersesat.
Ada kalanya kita harus menyingkirkan ego kita untuk summit demi keselamatan seorang teman. Jika memang ada yang cedera, segera lakukan pertolongan pertama dan segera menghubungi pihak basecamp.
Yang pasti, jangan tinggalkan teman yang cedera maupun kelelahan. Singkirkan segenap ego untuk summit demi keselamatan seorang teman.
4. Egois
Sedikit berbeda dengan poin sebelumnya, kasus ini biasanya terjadi pada pendaki dari jauh. "Apaan jauh-jauh dari X ke gunung Z belom sampe puncak malah elo nggak kuat! Nggak ah kalo mau turun duluan aja!"
Jadi utamakan keselamatan dan kebersamaan. Jika memang rekan anda tidak mampu melanjutkan ya sudah, temani dia turun. Sangat berbahaya bagi keselamatan anda dan rekan anda jika anda mengikuti ego "Puncak atau Tidak Turun sama sekali!"
5. Terjebak Kabut atau Badai
Alam memang tidak bisa ditebak, namun kita harus bisa memahami pertanda yang dia berikan. Saat mendaki, tak jarang pendaki mendapati kabut tebal yang umumnya disertai gerimis rintik-rintik. Kabut tebal tersebut mampu menyesatkan pendaki dari jalur yang semestinya.
Pernahkah anda mendengar Cap Clouds? Awan yang ada di puncak gunung yang terlihat seperti topi tersebut merupakan pertanda bahwa di puncak gunung sedang terjadi hudan badai.
Kalian juga bisa baca: Apa Itu Cap Clouds?
Sangat dianjurkan pendaki yang terjebak kabut maupun badai untuk berhenti sejenak meninggalkan aktivitas pendakian hingga kabut atau badai reda. Dengan redanya badai dan menghilangnya kabut, jalur akan terlihat jelas dan risiko bahaya pun bisa diminimalisir.
Sekian yang bisa disampaikan, semoga bermanfaat. Ada kritik, saran, atau request? silakan komen di kolom komentar. Kurang lebihnya mohon maaf,
Terima Kasih,
Seputar-Rimba!

Leave a Comment